POJOK KASTRAD: MELIHAT LEBIH DALAM TAMBANG BATU BARA “UNTUNG ATAU BUNTUNG?”

Halo, KM FEMA!

Berbagai aktivitas dan Kegiatan Kita sehari-hari, saat ini terasa lebih mudah dikarenakan adanya kemajuan teknologi, namun bagaimana teknologi dan mesin dapat dijalankan? Tentunya memerlukan listrik sebagai sumber energi.

Hingga saat postingan ini dibuat, sumber energi listrik yang ada di Indonesia masih di dominasi Batu Bara. Untuk memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga di Indonesia di proyeksikan sementara kebutuhan PLN dengan kapasitas terpasang sekitar 17,5 GW, membutuhkan batu bara sekitar 68 juta ton per tahun. Atau sekitar 5,7 juta ton per bulannya.

Pertambangan Batubara juga menjadi salah satu pendapatan terbesar bagi negara kita. Terhitung hingga awal Mei 2022, tercatat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor pertambangan mineral dan batu bara telah mencapai Rp 40,42 triliun atau telah mencapai 95,41% dari target penerimaan negara setahun penuh yang ditetapkan meski baru berjalan empat bulan.

Namun siapa sangka dibalik itu semua ada banyak kisah pilu akibat ketidakbertanggung jawaban pihak-pihak tertentu, Kerusakan alam akibat pertambangan Batubara berdampak besar bagi kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar daerah pertambangan, mereka meyakini aktivitas tambang batubara masif ini menyebabkan berbagai macam bencana seperti banjir, kekeringan, kebakaran sampai penyakit terutama inpeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Sudah dapat dipastikan kegiatan pertambangan Batu bara tanpa memperhatikan dampak lingkungan yang dilakukan secara terus menerus dapat mengganggu dan mengancam pemenuhan hak-hak anak yang tinggal di sekitar area pertambangan, bencana yang mengancam keselamatan tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan trauma pasca kejadian.

BEM FEMA IPB

Portal Website BEM FEMA IPB Narahubung : (Lutfi Arifudin) linktr.ee : linktr.ee/bemfema Twitter @bemfemaipb | IG @bemfema OA Line BEM FEMA @nhw4871i LinkedIn : BEM FEMA IPB

Tinggalkan Balasan